Ustadz Somad dan Lantunan Syair ‘Kau’ yang Viral

0Shares

HALAMANINDONESIA.COM, PEKANBARU – Ustadz kondang Asal Riau, Ustadz Abdul Somad (UAS) tampil memukau di acara bertajuk Penyair Berwakaf yang ditaja Yayasan Pusaka Riau (YPR) dan Yayasan Tabung Wakaf Umat (YTWU).

“Acara bertajuk Penyair Berwakaf Bersama UAS ini dimulai sekitar pukul 20.30 WIB,” kata Pembina YPR Taufik Ikram Jamil di Pekanbaru, Kamis (6/8/2020).

Acara Penyair Berwakaf Bersama UAS tersebut dilaksanakan dengan tatap muka dan dalam jaringan (daring) di Gedung Idrus Tintin Pekanbaru.

Sementara dalam jaringan disiarkan di saluran Ustadz Abdul Somad Official baik di FB, Instagram maupun YouTube, selain saluran FB maupun zoom YPR.

Dalam kesempatan tersebut Ustadz Somad membawakan sebuah syair yang berjudul ‘kau’.

Sebagaimana yang dipublikasikan oleh akun/Chanel YouTube Jamal UJR, UAS tampak begitu ekspresif dalam membawakan syairnya.

Dalam video berdurasi 05 menit 47 detik tersebut tampak ustadz 43 tahun itu mengenakan pakaian adat Melayu lengkap berwarna coklat muda.

Berikut kutipan syair yang dilantunkan Ustadz Abdul Somad (UAS).

Kau

Ku sangka kau lambat, rupanya sangat cepat
Ku sangka kau jauh, rupanya sangat dekat
Ku sangka kau lupa, rupanya selalu ingat
Ku sangka kau salah, rupanya kau selalu tepat
Ku sangka kau lemah, rupanya kau kuat
Ku sangka kau lembut, rupanya kau menyengat
Kau datang secepat kilat

Kau memang luar biasa
Kesedihan berakhir saat kau tiba
Duka lara pun ikut sirna
Nestapa dibawa serta
Risau hati dan luka-luka
Lenyap kau bawa bersama
Kau harapan akhir bagi mereka yang putus asa

Saat kau datang dalam gelap
Kata-kata menjadi gagap
Hati membuncah tiada terungkap
Yang terbayang khilaf dan silap
Nafas sesak terasa megap
Dunia lapang tapi tak telap mengungap
Kau ubah yang lezat jadi tak sedap

Saat kau datang
Tanpa bayang-bayang
Yang berkuasa tumbang
Yang kaya raya hilang
Yang gagah perkasa melayang
Senyap senyap kau terbang
Tanpa ada yang bisa menghalang

Ruh pun keluar meninggalkan diri
Rasa sakit tiada terperi
Bak tebasan pedang beratus kali
Binatang mendengar hingga sanubari
Kalau pernah zikir bersemayam dalam hati
Itulah yang terngiang di telinga kanan dan kiri
Lidah bergerak menyebut Robbul-‘izzati

Tinggallah padi sedang menguning
Tinggallah perigi berarir bening
Tinggallah baju hijau, merah dan kuning
Tinggallah kawan dekat dan yang asing
Tinggallah semua permainan hingga gasing
Ti nggallah luka, sakit dan kepala pusing
Semua diurus masing-masing

Jasad tiada bergerak
Orang ramai mulai datang berdesak-desak
Ada yang menangis terisak-isak
Ada pula sibuk kusuk-kasak
Ada yang sedih banyak yang purak-purak
Orang berbuat kita tak mampu menolak
Jatuh tanda buah sudahlah masak

Jasad pun terbujur
Diarak ke tepi kubur
Anak menantu menangis menjulur
Kawan dekat tak dapat menghibur
Hanya amal yang paling jujur
Istighfar menjelang sahur
Membuat dosa menjadi gugur

Satu persatu mereka pulang ke rumah
Hubungan dekat berakhirlah sudah
Yang dulu baik sekarang tak lagi ramah
Cinta kasih hanya tinggal sejarah
Kalau pernah membentang sajadah
Bersedekah agak sezarrah
Malam pertama di alam barzakh

Mereka mulai menghitung-hitung
Berapa warisan setinggi gunung
Berebut hingga sampai ke payung
Anak bingung menantu menggunggung
Rumah dibagi dijual langsung
Emas di peti tak lagi terkurung
Kita tetap dikunyah belatung

Andai dulu membina masjid
Andai dulu menolong orang sakit
Andai dulu hidup berpahit-pahit
Supaya ditolong saat terbelit
Andai berjihad luka di kulit
Sebelum alam kubur menjepit
Tiada lagi guna emas dan ringgit

Waktu sehat tak mau menolong
Waktu berkuasa, sombong
Waktu dipercaya, bohong
Duit tak keluar dari kantong
Ke maksiat condong
Korupsi begotong royong
Sekarang jasad terpotong-potong

Di alam barzakh berzaman-zaman
Nama besar tak jadi ingatan
Kuasa tak jadi jaminan
Yang kekal hanya iman
Anak cucu berkirim doa selamat dan Yasinan
Liang kubur menjadi taman
Doa bersahut menjelang azan

Malaikat datang membawa doa
Dari tuan Taufiq Ikram Jamil dan Aris Abiba
Tuan Samsudin Adlawi berkirim fatiha
Ada Qulhu dari Eko Ragil al Rahman dan Deni Kurnia
Doa tuan Syaukani Karim di kala senja
Puan Juliana menabur bunga
Tanda bersahabat hingga ke akhir masa

Kalau Babah pergi nanti
Jangan bersedih berhari-hari
Kita pasti bersua lagi
Di dalam surga bersama Nabi
Kalau hinggap susah di hati
Hadapkan diri pada Ilahi
Ucapkan di lidah dan hati ya Robbi

Video Syair UAS diatas dapat dilihat secara lengkap,

 

Sumber : aktaindonesia.com

0Shares
__Posted on
August 7, 2020
__Categories
Nasional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *