‘PINISI’ bukan ‘PHINISI’

BULUKUMBA, HALAMANSULSEL.COM – ‘PINISI’ atau ‘PHINISI. Inilah dua versi tulisan sebuah nama kapal kayu hasil karya dari Kabupaten Bulukumba dengan ciri khas dua tiang dan tujuh layar.

Dua versi tulisan yang telah menjadi warisan budaya dan kebanggaan nasional ini telah sukses mengukir sejarah dengan tampil pada Expo 1986 di Vancouver Canada.

Perbedaan tulisan ini masih marak dijumpai pada artikel di internet. Bahkan, dari penelusuran halamansulsel.com beberapa tulisan ilmiah seperti skirpsi, disertasi maupun yang lainnya masih ada yang memakai nama PINISI maupun PHINISI.

Budayawan Bulukumba asal Desa Ara, Drs. Muhamannis memberikan penjelasan terkait perbedaan tulisan kata ini. Menurutnya, untuk mengetahui penulisan yang benar mengenai perahu tangguh ini cukup sederhana.

Muhannis mengungkapkan abjad Lontara yang merupakan aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar dapat menjadi dasar atau patokan. Sehingga yang benar adalah PINISI bukan PHINISI.

“Yang benar adalah PINISI karena seabjad dengan Lontara yang tak kenal huruf PH,” ujar Muhannis kepada halamansulsel.com baru-baru ini.

Tak hanya mengenai tulisan, dalam fan page Sejarah Bulukumba mengungkapkan sampai saat ini masih terjadi perbedaan pendapat mengenail asal mula penamaan Pinisi.

Dimana dalam buku dengan judul Pinisi “Panduan teknologi dan Budaya” karya Muhammad Arif Saenong, 2013 menyampaikan masih ada tiga pendapat mengenai penamaan Pinisi.

Pertama, menurut Usman Pelly (1975) dalam buku “Ara dengan perahu bugisnya”, nama Pinisi diduga berasal dari kata Venecia, sebuah kota pelabuhan di Italia yang terkenal pada zamannya. senada dengan pendapat tersebut, sebuah sumber menyebutkan bahwa yang disebut “Pinisi” ialah model layar (yang terdiri dari tujuh helai).

Sementara itu, sebuah catatan mengatakan bahwa layar perahu Pinisi adalah hasil modifikasi dari model layar perahu Eropa. Apabila model layar Pinisi (Sepeti yang kita saksikan sekarang) tercipta berdasarkan modifikasi dari model layar perahu Eropa, maka pemberian nama Pinisi dimaksudkan untuk mengabadikan nama daerah asal model layar tersebut, yakni Venecia.

Selanjutnya dari kata Venecia mengalami proses Fonemik menurut dialek Konjo menjadi Pinisi. Pemberian nama Pinisi dalam hal ini adalah juga termasuk dalam kebiasaan Bugis-Makassar yang selalu mengabadikan nama tempat terkenal atau berkesan istimewah menjadi nama benda kesayangannya, termasuk perahunya.

Kedua, sumber lain menyebutkan bahwa nama Pinisi diberikan oleh Raja Tallo VII, yaitu I Manyingarang Dg. Makkilo kepada perahunya. Adapun nama tersebut diambil dari dua buah kata, yakni “Picuru” yang berarti “contoh yang baik”, dan kata “Binisi” nama ikan kecil yang lincah dan tegar di permukaan air serta tidak terpengaruh oleh arus dan gelombang. Raja Tallo memberikab nama perahunya dengan menggabung kata “Picuru” dan “Binisi” menjadi Pinisi (Nasaruddin Koro, Ayam jantan Tanah Daeng. 2006)

Ketiga, berpendapat bahwa nama Pinisi diduga berasal dari kata Panisi, kata Panisi (Bugis, artinya : sisip ; mappanisi artinya menyisip). Mappanisi (menyisip), yaitu yaitu menyumbat semua persambungan papan, dinding, dan lantai perahu dengan bahan tertentu agar tidak kemasuka air. Dugaan tersebut berdasar pada pendapat yang menyatakan bahwa orang Bugis yang pertama menggunakan perahu Pinisi. Lopi dipanisi’ (Bugis), artinya perahu yang disisip. Dugaan dari kata Panisi mengalami proses fonemik menjadi Pinisi.

loading...
Tagged with:     ,

About the author /


1 Comment

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *