Pemuda Dalam Tanda Kutip

Dalam isitlah yang menarik, Franz Kafka pernah menyebut istilah “seni melupa” (the art of forgetting) yang hanya akan terjadi kalau kita membunuh pikiran dan kesadaran kita. Ini tentu saja bentuk lain dari sebuah autokritik yang ingin disampaikan Kafka tentang realitas yang terbangun hari ini melalui jalan terjal panjang yang tak main-main.

Dalam konteks keindonesiaan kita, beragam lagu mellow menemani rentetan laju kebangsaan kita menuju kedewasaan yang semoga. Ada yang apresiasi setinggi langit, ada pula yang cukup diposisikan sebagai figuran semata. Banyak corak yang telah dilahirkan oleh rahim sejarah, membuat kerentangan melupa menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. Bukan saja sebatas cerita-cerita using yang tak lagi menemani kebangsaan kita, melainkan pola laku yang kadang gagal diwariskan oleh mereka yang bernama generasi selanjutnya.

Dalam deretan panjang ini, posisi pemuda adalah lakon yang paling sering ditempatkan sebagai ujung tombak perubahan dan pendewasaan bangsa. Hal ini bukan karena berulang kali kita disuguhi pengetahuan sejarah yang menempatkan pemuda sebagai lokomotif terjadinya pergerakan nasional melawan tirani kolonial, melainkan juga spirit yang mendarah-daging di tubuh seorang pemuda yang identik dengan sikap militansi. Seolah kategori manusia yang terhebat adalah pada sosok pemuda, barangkali.

Pemuda menjelma sebentuk perasaan yang mengikat untuk tetap “survive” bersama arus deras globalisasi dari semua penjuru. Ini mungkin ungkapan yang terlalu hiperbola bagi realitas yang ada sekarang ini. Namun, dengan tetap menanamkan konsepsi kepemudaan yang heroik bagi sugesti kebangsaan kita, itu bisa menjadi oase penggugah bahwa bangsa ini butuh perbaikan kondisi yang lebih membahagiakan. Bangsa ini tak bisa dibiarkan tumbuh-kembang bersama nostalgia masa lalu yang konon pernah begini dan begitu.

Kebiasaan mengutip ucapan Soekarno, atau sekedar meminjam kosa kata kebahagiaan dari bapak Mario Teguh lantas kemudian persoalan seolah selesai. Ada yang lebih mengkhawatirkan bagi realitas kepemudaan kita saat ini. Setidaknya posisi para pendiri bangsa cukup menjadi bacaan pengingat sikap bersikeras merdeka dari mereka yang dulu pernah muda. Selebihnya tugas kitalah sebagai pemuda melakukan kreatifitas gerakan pembaruan mengikuti konteks dan dinamika peradaban.

Rumusan kata pemuda tak berhenti pada kosa kata tertentu, mereka adalah cerminan dari masa depan dengan tanda tanya nasib dan berbagai ketidakpastiannya. Sehingga memperbaiki kualitas diri sebagai seorang pemuda sesuai disiplin kerja dan keilmuwan yang ada, merupakan opsi terbaik dari sebuah pengharapan panjang untuk sebuah bangsa.

Dalam teks sumpah pemuda misalnya “berbangsa satu, bertanah air satu”, ada sebentuk kesadaran bersama untuk menyatakan kebersamaan dan keyakinan kolektif. Substansinya sebenarnya ada pada tugas pemuda menjaga harga diri bangsa dalam bingkai keindonesiaan, bukan sekedar seremoni peringatan semata. Lewat giringan pemuda, kenyataan bangsa dititikberatkan pada kemampuan berdialektika bersama perubahan zaman. Akhir-akhir ini misalnya, kita dicemaskan oleh maraknya gerakan makar dari kelompok radikal berkegok agama. Belum lagi, trend konflik kepentingan yang tak berkesudahan di jajaran elit, dan banyak lagi problematika kebangsaan yang seolah terbiarkan begitu saja.

Kesemuanya ini menjadi pekerjaan besar dari para pemuda dan mereka yang sedang dalam perjalan menuju usia muda. Mempersiapakan diri sedini mungkin menghadapi arus deras yang entah dalam bentuk apa. Misalnya tawaran Cak Nun untuk mereka yang berusia muda untuk tetap berlaku santun dan tak gemar sok tau, memperbanyak bersentuhan dengan aspek kehidupan nyata, merasakan realitas yang sesungguhnya agar terbiasa dengan perasaan bisa merasa, bukan merasa bisa. Dan yang terpenting usia muda, sikap mencari tahu dan lebih banyak mendengarkan nostalgia masa lalu untuk pijakan awal di masa mendatang.

Banalnya kebudayaan yang dibawa melalui banyak sumber hari ini menjadikan kerentangan bagi pemuda untuk menjadi generasi konsumtif. Lihat saja bagaimana tontonan media dan berbagai kemudahan yang berlakon sebagai pisau bermata dua. Pemuda dan masyarakat muda jangan sampai berada pada lingkaran generasi yang miskin ide, generasi tanpa identitas, tanpa orientasi, generasi yang hobi menyebut dirinya sebagai sekelompok orang yang terancam disebut calon intelektual masa depan padahal sama sekali tak menempuh internalisasi apapun untuk sebutan itu.

Akhirnya, masa depan bangsa ini tergantung masyarakat mudanya menempatkan kebiasaan dirinya, dia ibarat halte yang terus berjalan dan menurunkan penumpang dan mengambil penumpang baru untuk di antarkan ke sebuah visi dan misi yang sesuai karakter yang selama ini mereka bangun. Semoga setelah ini, Indonesia punya cerita yang lebih mengembirakan selain korupsi dan kabar tukar menukar amarah atas nama perbedaan.

Penulis
Mustaqim Ibnu Adam
Mahasiswa Sosiologi Fisip UH

loading...
Tagged with:     , ,

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *