Patorani, Lelaki Pemberani dari Takalar

TAKALAR, HALAMANSULSEL.COM – Patorani atau para nelayan pencari telur ikan terbang banyak bermukim di kawasan  pantai yang berada di kabupaten Takalar khususnya di Kecamatan Galesong.

Patorani diambil dari kata Tobarani yang artinya pemberani. Sejarahnya, para pemberani (Tubaraniyya) dari Kerajaan Galesong yang merupakan Laskar pemberani utusan Kerajaan Galesong  untuk bertempur melawan Belanda, sebagai bentuk bantuan bagi Kerajaan Sultan Terunojoyo, di Daerah Tuban, Pulau Jawa Timur.

Namun laskar yang dipimpin oleh Karaeng Galesong, mengalami kekalahan dan sebagian laskarnya gugur di medan pertempuran.

Ketika sebagian laskar Tubaraniyya yang masih hidup, beranjak pulang ke Pulau Sulawesi Selatan, ditengah perjalanan laut dengan secara keajaiban alam kapal para laskar Tubaraniyya, dikelilingi oleh ribuan ikan – ikan bersayap dan terbang dipermukaan air laut.

Tubaraniyya ini diyakini yang pertama kali menyaksikan kerumunan ikan bersayap dan terbang. Terbangnya pun puluhan hingga ratusan meter diatas permukaan air laut lepas.

Mereka pun mencari cara agar dapat menangkap ikan – ikan bersayap dan terbang tersebut dalam jumlah sebanyak -banyaknya. Sesampainya kembali dengan selamat ditanah Kerajaan Galesong, para Tubaraniyya, mengabarkan kejadian yang dialaminya kepada Sesepuh Kerajaan Galesong.

Hasil pertemuan ini dicapai kesepakatan untuk membuat alat tangkap ikan bersayap dan terbang. Adapun bahan baku alat tangkap tersebut adalah berbahan batangan bambu dan dilengkapi oleh jaring khusus.

Alat penangkap ikan bersayap dan terbang ini dinamakan ‘Pakkaja’ kemampuan membuat Pakkaja pun banyak ditiru oleh warga masyarakat Galesong, namun hanya para keturunan Tubaraniyya – lah, yang mampu memperoleh ikan – ikan bersayap dan terbang dalam jumlah besar.

Saat ini, patorani masih bertahan. Bahkan jumlahnya semakin besar yang rela berlayar demi memperoleh telur – telur ikan  terbang, yang berkualitas dan berharga jual tinggi. Namun tetap mempergunakan cara – cara dan penangkapan serta peralatan yang berkearifan lokal sebagai warisan leluhur mereka.

Tak hanya alat tangkap, Patorani tetap mempertahankan ritual leluhurnya sebelum berangkat ke laut lepas. Ritual Patorani, merupakan cerminan keyakinan yang telah terwariskan turun – temurun yang dilakukan beberapa tahapan.

Pertama, Accini Allo (Menentukan Hari/ Waktu yang baik). Disisni diadakan musyawarah dengan para Tokoh Adat dan para Patorani, dalam rangka menentukan waktu yang tepat sebelum melaut. Pada prosesi ini para Nakhoda Kapal (Punggawa), bermusyawarah dengan para Kru Kapal (Sawi) yang dituntun oleh Sesepuh Adat (Pinati).

Kedua, Annisi’ (Mempersiapkan Alat Tangkap). Para Patorani Galesong, selanjutnya menarik kapal kelaut (Abbeso’ Biseang) untuk mempersiapkan segala peralatan penangkap ikan terbang selama sepekan lamanya.

Ketiga, Apparada (Pengecatan Kapal). Mengecat kapal agar terlihat lebih terang dan lebih bersih, yang merupakan bagian ritual berikutnya. Ritual pengecatan kapal disebut dengan kalimat Apparada. Prosesi Apparada, diikuti dengan pengambilan dan menyiapkan daun kelapa (Angngalle Leko’ Kaluku) lalu daun – daun kelapa tersebut akan digunakan sebagai pembungkus ikan – ikan terbang (Juku’ Tuing – Tuing) yang telah didapatkan.

Keempat, Appanai’ Pakkajang (Mengisi kapal dengan perbekalan). Disni para patorani dibantu dengan para keluarga atau kerabat menaikkan perbekalan untuk mencari ikan terbang

Kelima, Appanaung Rije’ne (Melarung Sesajen). Ritual inti dari prosesi secara keseluruhan adat Patorani yaitu melarung sesajen (Appanaung Rije’ne) yang diikuti nyanyian lagu daerah Makassar, sembari mendorong kapal – kapal nelayan para Patorani, menuju ketengah laut lepas.

Terakhir, Appassili (Berdo’a Bersama). Setelah prosesi melarung sesajen dilaksanakan telah usai, maka keseluruhan ritual ini selanjutnya dilepas (A’lappasa’) atau pelepasan para nelayan Patorani, oleh keluarga dan kerabat dengan lambaian tanganyang diiringi dengan do’a, semangat dan harapan yang diperuntukkan bagi para nelayan Patorani, agar memperoleh  keberkahan dan keselamatan.

loading...

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *