Orang Ara dan Kepiawaian Membuat Perahu Kayu

BULUKUMBA, HALAMANSULSEL.COM – Desa Ara, berada di Kecamatan Bontobahari sekitar 35 Km dari Ibu Kota Kabupaten Bulukumba.

Desa Ara yang telah terbagi menjadi dua desa yakni Ara dan Lembanna dan kecamatan Bontobahari letak geografisnya pada umumnya terdiri dari batu karang dan padang rumput serta ditumbuhi semak belukar, kering dan tandus.

Hal ini berbeda dengan kondisi tanah di bagian barat dan utara Kab. Bulukumba yang subur dan cocok untuk lahan pertanian dan perkebunan.

Hal inilah menurut, Muhammad Arif Saenong dalam bukunya ‘Pinisi, Panduan Teknologi dan Budaya’ 2013, menjadi alasan mengapa Kec. Bonto Bahari (Ara, Bira, dan Lemo-lemo) ini menjadi sentra pembuatan perahu.

Bonto Bahari sangat sedikit tanah yang dapat dijadikan lahan pertanian sehingga kondisi ini tidak dapat diharapkan penduduk ketiga Desa untuk menghidupi keluarganya dari sektor pertanian.

Menurut Drs Muhannis, menyebut Pinisi ingatan orang pasti mengarah kepada sebentuk karya cipta anak manusia Ara yang konon adalah nama sebuah kawasan tempat lahir dan berkumpulnya Panrita lopi yang keahliannya terkenal seantero dunia.

Ketangguhan Pinisi telah terbukti dalam Misi pelayaran Pinisi Ammana Gappa ke Madagaskar pada tahun 1991 dan Pelayaran Historis Pinisi Nusantara ke Vancouver Canada untuk tampil pada Expo 1986 yang telah mengantarkan Perahu hasil kekayaan intelektual To Panrita Lopi di Bulukumba.

Pinisi sampai saat ini telah menjadi magnet penarik banyak peneliti Mancanegara maupun Nasional antara lain peneliti asal Inggris F. Collins yang pada tahun 1930-an memesang perahu Pinisi di Ara.

Kepiawaian orang Ara membuat perahu Pinisi membuatnya terkenal dan merantau kemana-mana menerima pesanan Pembuatan perahu Pinisi. Dahulu, orang Ara merantau keluar dari Desanya hanya berjalan kaki sambil memikul peralatan, jauh sebelum mereka mengenal sepeda.

Pada mulanya mereka merantau ke daerah Bugis (Balangnipa Kabupaten Sinjai, Angkue, dan daerah Bugis lainnya), disamping ke daerah yang lebih dekat seperti Bira dan Tanah Beru.

Dari hal inilah yang menyebabkan lahirnya Pameo/Ungkapan yang menyatakan “Dimana ada Pinisi di Buat, tentu orang Ara yang mengerjakannya”

Perantauan mereka ke berbagai daerah telah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu, dimana saja mereka bersedia mengerjakan perahu type apa saja sesuai dengan keinginan pemesan, walaupun model/tipe perahu yang diinginkan itu belum pernah dilihat sebelumnya.

Seperti yang terjadi di Marumasa Bira tahub 1992, sebuah perahu model kuno pernah dibuat, pesanan seorang berkebangsaan Jepan bernama Yamamoto. Model perahu tersebut ditiru dari gambar relief Borobudur, perahu kuno yang berbobot kutlrang lebih 100GT itu memakai dua tiang dan menggunakan alat keseimbangan (Cadik).

Walaupun model perahu tersebut belum pernah dilihat sebelumnya, namun karena yang membuat adalah ahlinya maka perahu yang dinamai “Damar Sagar” itu dapat diwujudkan oleh Panritanta (ahlinya) sesuai keinginan sang pemesan.

Baca Juga ; Pinisi Bukan Phinisi

Menurut Usman Pelly (1975), mitos saweragading telah menampilkan pola kehidupan orang Ara (salah satu Desa yang terletak di Kec. Bonto bahari) sebagai ahli perahu. Hal ini dilihat dari tiga aspek.

Pertama, titik tolak dalam pembuatan perahu diilhami oleh penemuan perahu saweregading yang terdampar. Dua Nenek Saweregading (La Toge Langi) sebagai pencipta perahu dilambangkan kedudukannya sebagai punggawa, sedang Saweregading sendiri sebagai pemilik (sambalu).

Karena Saweregading diciptakan dengan kekuatan gaib oleh neneknya dalam perut bumi, sehingga pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari perahu tersebut akan mempunyai nilai gaib (magis) pula.

Demikian mendarah dagingnya jiwa kebaharian orang Bugis-Makassar, khususnya untuk orang Ara, tercipta Ungkapan dalam bentuk lagu peranan Orang Ara dalam pembuatan Pinisi di Bulukumba.

“Ricaddi caddiku iji // Nakujannang ribantilang // Anjama Lopi // Kasossoranna manggeku // Pasangngi pinangkakannu // Pauang anak riboko // Nakatutui // Sosorang kapanritanna”.

(Artinya : Sejak Aku kecil // Telah menetap di bantilang // Mengerjakan perahu // Sebagai warisan orang tuaku // Teman sebayamu // Kabarkan pada generasimu // Agar dipelihara // Warisan keahliannya.)

Dahulu kala lagu tersebut didengdangkan dengan menggunakan iringan Tennong, dan pada pembuatan Film Pinisi oleh PUSTEKKOM DEPDIKBUD tahun 1992, juga dengan kecapi.

Apabila lirik lagu tersebut disimak maka dapat dipahami sebagai pesan yang diamanatkan kepada generasi muda bahwa warisan sebagai ahli perahu (Bira, Ara, dan Tanah beru) memang telah dimiliki sejak dahulu.

Sumber, dari fanpage Sejarah Bulukumba yang dikutip dari buku Muhammad Arif Saenong. 2013. Pinisi “Panduan teknologi dan Budaya. Ombak. Yogyakarta.  Usman Pelly, Drs.,Ara dengan perahu bugisnya. Ujung Pandang: Pusat latihan ilmu-ilmu Sosial Unhas, Makassar. 1975. Dan tulisan Drs. Muhannis, 2014 ‘Pinisi Diantara Bangkit dan Dilupalkan.

loading...
Tagged with:     , , ,

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *