Kepada Barisan Generasi

Di kota blitar di lahirkan tokoh yang membawa perubahan di usia dewasanya. perjuangan yang dimulai oleh sosok karno muda yang berani memperjuangkan pemikirannya demi kemerdekaan bangsa ini, dalam tidur yang kian riuh di telan malam , hingga perjuangan yang semakin dekat untuk meraih kemenangan.

Hidupnya harus di bawah pemerintah masa kolonial, ketika bung karno mendapatkan gelar Insinyur, membuat ketakukan bagi bangsa kolonial untuk pemikir dan negarawan yang lahir seperti Bung Karno.

Dengan berbagai ekspektasi dan monopoli, kolonial sepertinya resah dalam tidur, memaksa diri bersembunyi dalam ketakutannya yang mencekik dengan mengasaingkan sosok bung karno. Namun di lubang yang dalam sosok bungkarno enggan menaruh tangan di atas lutut, perjuangannya ia terus lanjutkan walau harus, berpisah dengan sahabatnya d batavia dan yogyakarta.

Dengan status sebagai pengasingan yang mendapatkan keringanan dari pemerintah kolonial dan terpaksa kembali di satukan dalam kesatuan yang utuh oleh para pemikir besar negeri ini , bersama tokoh muda yang modal semangat jiwa muda dan darah mudanya, serta orang tua seperti Hatta, Soebarjo dan Melik yang mampu melahirkan bangsa dengan usia 8 kepala negara hingga kini

Sosok yang lahir di salah satu rumah sakit di kota Parepare, kota yang di berstatus kota Madya, lahir seorang bayi yang mampu di masa dewasanya, di pekerjakan oleh salah satu bangsa yanh dikenal bangsa adidaya tak pernah mendengar genjatan senjata di negaranya, di dalam militer negera tersebut di kenal sebagai negara yang tak pernah di jajah.

Dibalik itu seorang manusia yang hanya bergelasr profesor dari indonesia, dengan sedikit ukaran tinggi badan , tak sama rata dengan orang jerman tapi , pikiran dan karyanya mampu mengalahkan realitas tersebut. Negeri ini pernah menangis karena sang profesor itu, beranjak dengan ainun ke negeri jerman, dan di tolak kembali ke tanah air.

Jasa dan perjuangannya mendapat berbagai cendramata dan penghargaan di negeri jerman, sehingga dengan malu menjilat kembali ludahnya, adalah tindakan yang harus dilakukan oleh bangsa ini. Dalam hasil perjuangannya, kursi orang nomor 2 yang cicipi dalam masa resis orde baru-reformasi, hingga duduk di singgasana dengan judul di pemberitaan Presiden RI.

Dua pemikir keras diatas harus menjadi sesepu dalam peradab generasi, setiap buku yang bercerita tentang 2 tokoh ini akan lapuk di tekan debu dan buku-buku lain, tapi tetap harus di simpan, dalam sejarah yang di ajarkan di sekolah adalah menjadi hal yang murka, jika nama 2 tokoh ini tak di adakan.

Pemikir seperti ini, adalah orang-oranh biasa namun hasil dari pemikirannya membuat dunia harus mengarah pandangan kepadanya, dunia membutuhkan orang-orang seperti 2 tokoh ini.

Dalam generasi ke generasi, indonesia sepakat jika kemajuan bangsa kita sudah kita rasakan di 2045, sangat baik jika tahun sebelumnya, maju sudah milik status indonesia, dalam usia yang lanjut ini, bangsa yang terbentang dari sabang hingga marauke harus melahirkan sosok Habibie dan bung Karno, dengan pertumbuhan penduduk di atas rata-rata.

Kita mesti malu pada China, di atas masyarakatnya yang kian lebih banyak dari pada kita, bahkan mendapat predikat oleh dunia sebagai bangsa dengan penduduk terbesar di dunia, namun mampu menjalani rotasi kehidupan dengan sejahtra,aman, dan makmur.

Hal semacam ini, bukan tugas pemerintah sebagai biyang dari kewenannnya, ini masalah yang jika tidak di atasi sekarang akan berlanjut di generasi selanjutnya, terus bertambah hingga di ujung batas.

Hari ini? Jika saya tanyakan kepada teman-teman ku? Mampukan kita di kelak nanti memegang erat-erat bangsa ini,di atas kemenangan bahkan di atas kesedihan.

Jika teman-teman mengatakan ia? Itulah kunci kemenangan menuju kejayaan bangsa kita, mestinya raga kita melayang ketika di koran di muat ” tentang keberasilan indonesia dalam menjadi negara maju” paling tidak setelah titik kalimat terakhir akan mendapatkan tepuk tangan sari pembacanya.

Inilah letak kejayaan bangsa kita, Tuhan menaruh harapan pada waktu, ia hanya memberikan kita usaha dan kemana kita akan menahkodai kehidupan bangsa kita.

Kita harus berbanggsa karena kita adalah pelangi berwarna, yanh penuh dengan perbedaan dan perspektiv masing-masing, tapi sejarah dan adat yang membuat kita bersatu, keyakinan dan kepercayaan adalah kunci untuk mempercayai satu dengam lainnya.

Kalau di 10 Maret ini, dunia masih saja menganggapkan kita negara berkembang apakah kita harus tertawa dan menaruh harapan pada waktu???

Nampaknya, pekerjaan rumah kita sebagai pelajar bertambah, tapi kali ini bukan dari guru kita, kini panggilan dari jiwa yang berkobar di atas semangat nasionalisme?

Kepada temanku, indonesia adalah negera yang masih bersifat remaja namun berusia tua, pikirannya masih belum dewasa, dia bisa saja mengamuk, bunuh diri, dan merusaki masa depannya,

Oleh karena itu kawan, jadilah orang tua yang bijak untuk indonesia, berikan dia kenyamanan untuk menentukan arahnya di masa depan, tuntnlah dia ke jalan yang benar.

Penulis : Ahmad Takbir AbadiĀ 

loading...
Tagged with:     ,

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *