Catat, Ini Event Wisata Sulsel yang Digelar Bulan April

MAKASSAR, HALAMANSULSEL.COM – Berbagai upaya dilakukan Dinas Kebudayaan dan Parawisata Sulawesi Selatan dan Kabupaten untuk menarik kunjungan wisatawan. Salah satunya menggelar berbagai event budaya untuk memancing pengunjung.

Berikut halamansulsel.com merangkum 5 event wisata Sulsel April 2016 yang digelar di berbagai Kabupaten

1. Festival Mattompa Arajang
Festival Mattompa Arajang
Festival Mattompa Arajang biasanya dilakukan bertepatan menyambut Hari Jadi Kabupaten Bone. Mattompa Arajang merupakan ritual pencucian benda-benda pusaka Kerajaan Bone di tempat benda pusaka (Arajang), yang berada di Rumah Jabatan Bupati Bone. Pencucian benda pusaka yang disebut Mattompang ini digelar dengan menggunakan tujuh air sumur yang berada di Kabupaten Bone.

Benda-benda pusaka yang ditompang meliputi Kelewang LaTea RiDuni, Keris La Makkawa, Tombak La Sagala, Kelewang Alameng Tata Rapeang yang merupakan senjata Raja Bone ke XV Arung Palakka dalam menghadapi setiap peperangan.

“Teddung Pulaweng” atau payung emas yang merupakan tanda persaudaraan dari Raja Pariamang kepada Raja Bone ke XV Latenri Tatta Arung Palakka. Serta “Sembang Pulaweng” atau Selempang Kerajaan yang berupa untaian padi dari emas murni seberat 5 kilogram dan sepanjang 170 cm.

Ritual Mattompang tersebut dilakukan dalam beberapa tahap. Dimulai dengan Mallekke Toja yaitu pengambilan air di tujuh sumur untuk pembersihan arajang beberapa hari sebelumnya. Dua di antaranya berasal dari sumur kerajaan yaitu sumur laccokkong di Laccokkong dan sumur “ittello” di Lassonrong serta lima sumur bissu yang terletak di Lampoko.

Ritual kemudian dilanjutkan dengan Matteddu Arajang atau mengeluarkan benda-benda pusaka dari tempatnya yang kemudian dibawa ke tempat Mattompang oleh para bissu untuk diperlihatkan kepada Bupati Bone dan jajaran pemerintah setempat, serta undangan lainnya. Ritual ini disebut diappesabbiangngi.

Tahapan selanjutnya disebut “memmang to rilangi” atau kata-kata yang diucapkan oleh bissu yang berisi permohonan izin untuk membersihkan arajang. Dilanjutkan dengan inti acara yaitu “massossoro atau mattompang arajang” yang bermakna mencuci benda-benda pusaka yang dilakukan oleh empat orang panre bessi (pandai besi kerajaan) diiringi dengan sere alusu atau gerakan-gerakan yang dilakukan oleh tujuh bissu masing-masing bali sumange, ana beccing, dan kancing diiringi genderang.

Payung Pulaweng, Keris Lamakkawa, Pedang Latea Riduni, tombak Lasagala, dan Selempang Kerajaan merupakan syarat perlengkapan utama dalam setiap pelantikan Raja-Raja di tana Bone seperti yang ditegaskan dalam Lontara Bugis yang menjelaskan tanda Mangkau (Raja) Bone adalah yang memakai Lamakkawa dan Latea Ri Duni, bertongkat tombak Lasagala, mengambil sawah di Lacaloko serta dipayungi payung emas.

Mattompang bukan hanya sekedar prosesi tapi lebih kepada pelestarian budaya dan wujud dari rasa cinta kepada sejarah dan kebudayaan Kerajaan Bone.

Tanggal : 06 April 2016 6 April 2016
Tempat : Kabupaten Bone
Pukul    : 09.00 – Selesai

2. A Jarang (Pacuan Kuda Tradisional)
A Jarang (Pacuan Kuda Tradisional)
A’jarang atau Lomba Pacuan Kuda kerap dilakukan di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Kabupaten Jeneponto terkenal dengan julukan Kota Kuda. Tidak sekedar menjadi alat transportasi, namun kuda sudah menjadi bagian keseharian masyarakat, gaya hidup, juga simbol status seseorang bermasyarakat. Tak heran, semua rumah tangga memiliki kuda sebagai hewan peliharaan.

Ada kebiasaan unik yang diadakan masyarakat Jeneponto untuk menguji kehebatan kuda peliharaan mereka, yaitu dengan pacu kuda tradisional atau dalam bahasa setempat “Pa’ lumba Jarang atau A’jarang”. Pacu kuda ini kerap berlangsung di Kampung Beru, Kelurahan Empoang Selatan, lokasinya berada di tengah Kota Jeneponto.

Lintasan pacuan sepanjang 600 meter tergolong sangat sederhana dan dibangun atas dasar inisiatif warga yang gemar dengan aktivitas pacuan kuda. Khususnya para pria yang menjadikannya sebagai atraksi hiburan.

Uniknya juga, pacuan kuda itu kadang menggunakan joki anak-anak atau joki cilik yang berumur sekitar 8 hingga 17 tahun. Kuda yang mereka gunakan berlaga kebanyakan adalah milik warga yang ingin menguji kudanya. Meski hanya dengan menggunakan peralatan seadanya seperti helm standar untuk kendaraan bermotor dan sandal, mereka terampil dan mahir menunggangi kuda-kuda pacunya.

Menjadi joki cilik adalah sebuah kebanggaan bagi mereka dan keluarganya yang beberapa diantaranya keahlian menunggang kuda pacu telah diwarisi turun temurun. Ketakutan akan terjatuh atau terluka jarang terlintas di pikiran para joki cilik ini. Yang terpenting bagi mereka adalah bisa ikut berlaga dan menjadi juara.

Tanggal : 06 April 2016
Tempat : Kabupaten Jeneponto
Pukul    : 12:00

3. Festival Datu Tiro
Festival Datu Tiro
Festival Dato Tiro adalah salah satu festival budaya yang diselenggarakan di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Nama festival ini diambil dari nama seseorang yang berasal dari Tanah Minang yang menyebarkan agama Islam di Sulawesi Selatan pada sekitar tahun 1600-an yang bernama Dato Tiro.

Festival Dato Tiro ini biasanya dipusatkan di Pantai Samboang. Festival Budaya ini bertujuan mengingatkan upaya Dato Tiro dalam menyebarkan Islam Ahlusunnah Wal Jamaah di tanah Bulukumba atau yang dikenal Bumi Panrita Lopi. Kegiatan ini bertujuan untuk merefleksikan upaya Dato Tiro menyebarkan Islam tanpa harus menghilangkan identitas budaya yang melekat di masyarakat Bulukumba.

Diketahui, penyebaran Islam di Sulawesi Selatan tidak terlepas dari peran tiga dato yang dikenal, yakni Dato Ribandang, Dato Fatimang, dan Dato Tiro. Nama Dato Tiro dikenal sebagai peletak batu pertama penyebaran Islam di Bumi Panrita Lopi Bulukumba.

Kedatangan Dato Tiro dalam menyebarkan Islam di Bulukumba memang dikenal mampu memadukan antara ajaran Islam dan kearifan budaya lokal setempat sebagai sebuah ajaran yang diterima secara luas oleh masyarakat.

Dalam prosesi Festival Dato Tiro ini menampilkan beberapa kesenian. Diantaranya pembacaan riwayat dan sepak terjang Dato Tiro melalui kesenian Sinrili, Gandrang Bulo, Sitobo Lalang Lipa’, hingga seni bela diri.

Tanggal : 09 April 2016 10 April 2016
Tempat : Kabupaten Bulukumba
Pukul    : 09.00 – Selesai

4. Festival Sop Saudara
sop saudara
Festival Sop Saudara telah masuk dalam event tahunan (Callender of Event) pariwisata Sulsel sejak tahun 2012 lalu. Sebelumnya, pada tahun 2009, Sop Saudara Pangkep ikut ajang Festival Kuliner Internasional Tongtong Fair, di Denhaag, Belanda.

Popularitas produk makanan berkuah ini telah ikut mempopulerkan Kabupaten Pangkep di kancah kuliner tanah air. Asal usul dan sejarah Sop Saudara tidak bisa dilepaskan dari kisah perjalanan hidup H Abdullah alias H Dollahi, sang penemu dan peracik pertama Sop Saudara Pangkep.

Berawal dari tahun 1957, H Dollahi, putera kelahiran Sanrangan, Kecamatan Pangkajene, Pangkep, ini melirik pekerjaan sebagai pelayan warung. Kala itu, seorang warga Pangkep bernama H Subair (alm) membuka warung Sop Daging di Pasar Bambu Makassar yang pada waktu itu cukup laris. Pengalaman sebagai pelayan warung selama tiga tahun, H Dollahi banyak belajar tentang Sop. Tahun 1960 ketika Pasar Senggol (sekitar Karebosi) Makassar dibuka, ia memutuskan untuk mendirikan usaha warung sendiri dengan dibantu 14 karyawan yang berasal kalangan intern keluarga sendiri.

H Dollahi berkreasi membuat Sop yang lebih istimewa dibanding dengan racikan seniornya, H Subair, dengan menambahkan bumbu yang selama ini dinilainya masih kurang. Selain membenahi rasa, ia juga memberi terobosan memberi nama Sop buatannya dengan nama Sop Saudara.

Mengapa memilih nama Sop Saudara? Alasannya adalah selain terinspirasi dari nama warung Coto Paraikatte yang juga terkenal saat itu, juga dimaksudkan agar orang-orang yang datang dan makan Sop di warungnya merasa bersaudara dengan pemilik, pelayan, dan sesama pelanggan warung. Misi Sop Saudara menghadirkan nilai dan suasana persaudaraan.

Sop Saudara tidak jauh berbeda dengan Coto Makassar, makanan khas Sulawesi Selatan lainnya. Sama-sama berbahan baku daging sapi dan keduanya disajikan dalam mangkuk kecil. Yang berbeda adalah Sop Saudara menggunakan parkedel kentang sedangkan Coto Makassar tidak. Bumbu yang digunakan juga sedikit berbeda, karena Sop Saudara menggunakan merica dan ketumbar. Yang lainnya sama saja, keduanya menggunakan bawang merah, bawang putih, lengkuas sebagai bumbu dasarnya.

Perbedaan lain dari keduanya adalah cara penyajiannya. Coto Makassar biasanya disajikan bersama ketupat, sedangkan Sop Saudara disajikan dengan nasi dan ikan bakar (bandeng). Tetapi menurut sang penemunya, H Dollahi, hidangan Sop Saudara akan terasa lebih istimewa bila tidak dihidangkan dengan ikan bakar karena menurutnya Cobe-Cobe (saus) dari ikan bakar bisa menghilangkankan aroma dan rasa khas Sop Saudara.

Kini, warung Sop Saudara Pangkep mengalami perkembangan pesat, tidak hanya di Sulawesi Selatan tetapi juga telah merambah di seantero nusantara, bahkan di Malaysia dan Arab Saudi.

Pada tahun 2013, atas prakarsa Bupati Pangkep, H Syamsuddin A Hamid, SE, diselenggarakan Festival Sop Saudara 2013 dan sukses meraih Piagam Penghargaan dan dicatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) No.6106/R-MURI/VIII/2013, tanggal 21 Agustus 2013, Kategori Peserta Terbanyak, 2.500 Orang.

Tanggal : 11 April 2016 11 Februari 2016
Tempat : Kabupaten Pangkep
Pukul    : 09.00 – Selesai

5. Festival Budaya To Berru
254918
Beragam atraksi kesenian dan budaya Kabupaten Barru, dipertunjukkan di Festival Budaya To Berru. Acara ini dipusatkan di Alun-alun Kota Barru. Selain atraksi kesenian, acara ini juga diisi dengan wisata sejarah dan wisata kuliner.

Pada pelaksanaan festival budaya tersebut, para tamu undangan disambut dengan pertunjukan pencak silat dan tari-tarian dari para pelajar. Selanjutnya, para tamu juga disajikan Bosara berisi makanan khas Barru yang juga merupakan simbol atau cara menyambut tamu-tamu terhormat dari kerajaan.

Festival Budaya To Berru, merupakan even tetap tahunan. Festival dilaksanakan untuk menggalakkan kunjungan wisatawan ke Sulsel, khususnya di Kabupaten Barru. Festival ini diharapkan menjadi jendela untuk melihat kekayaan budaya dan potensi wisata di Barru.

Diketahui, Kabupaten Barru memiliki potensi sebagai daerah tujuan wisata. Barru memiliki wisata sejarah, wisata kuliner, dan wisata alam yang tidak kalah dengan daerah lain di Indonesia.

Festival Budaya To Berru dirangkaikan dengan berbagai kegiatan. Diantaranya, karnaval budaya, pameran, lomba cerita rakyat, lomba permainan tradisional, lomba bahari perahu hias, hingga pemilihan gadis desa.

Tanggal : 20 April 2016 21 April 2016
Tempat : Kabupaetn Barru
Pukul    : 09.00.00

loading...

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *