Berdaulat di Bawah Laut

Perairan indonesia terlihat tenang di atasnya, tetapi penuh gejolak dibawahnya. Menjaga kedaulatan di Laut mutlak dilakukan di atas dan di bawah permukaan Laut. Kapal selam merupakan alutsista paling strategis di matra laut dengan kemampuan pengawasan, pengintaian hingga pertempuran bawah laut.

Memiliki kerahasiaan tinggi dalam melaksanakan misi patroli perairan teritorial secara gaib (tanpa terlihat dengan kasat mata) sehingga tidak “show of force”, tetapi hasil observasi laporan patrolinya sangat berguna bagi unsur-unsur pengamanan laut lainnya.

Kekuatan pertahanan RI meningkat signifikan dalam 5 tahun terakhir setelah “shopping” perabot alutsista. Kekuatan otot alutsista Indonesia memaksa negara-negara tetangga mengubah konsep geostrategi pertahanannya, karena melihat indonesia sebagai ancaman baru. Namun kekuatan bawah laut indonesia masih belum diperhitungkan.

Singapura saja yang negara kota punya 6 kapal selam berbagai kelas, Malaysia 4 kapal selam dan Australia 6 kapal selam kelas collin type 471, bahkan Vietnam sudah punya 4 kapal selam kelas Kilo dari Russia dengan kelas wahid dan teknologi tercanggih, padalah luas wilayah lautnya tidak seberapa. Indonesia memang masih lebih unggul dengan KRI atas airnya, namun sayang hanya punya 2 kapal selam buatan jerman 1981 (KRI Nanggala dan KRI Cakra).

Dilihat dari aspek operasioalnya, jika Cakra lagi “medical checkup” (perbaikan) berarti hanya Nanggala “sendirian” yang piket, begitupun sebaliknya. Artinya hanya satu kapal selam yang harus merondai bawah laut indonesia secara bergantian, sangat naif bagi sebuah negara kepulauan.

Idielnya indonesia memiliki lebih dari 10 kapal selam yang dapat melakukan patroli pengawasan dan pendeteksian dini di halaman sendiri hingga ke halaman tetangga. Era tahun 1960an (operasi Trikora Irian Barat) Indonesia memiliki 12 kapal selam kelas whiskey ciptaan Uni Soviet (Russia) yang tergolong canggih dimasanya, menjadikan Indonesia jawara dengan kekuatan armada tempur bawah laut terbanyak dan terkuat dibelahan bumi selatan, itu pula yang membuat Belanda memilih jalan diplomasi dan angkat kaki dari Irian Barat setelah sebelumnya di peringati oleh Amerika tentang kekuatan senyap TNI AL kala itu.

Baca Juga : Potensi Wisata Bawah Laut Bulukumba Terancam

Beda masa beda alutsista, Kekuatan kapal selam Indonesia masih setengah matang, Sebagian besar negara kawasan sudah memprioritaskan kekuatan bawah lautnya untuk bersiap menyambut gejolak perang dunia ke III yang diramalkan akan beralih ke kawasan asia fasifik dan gejolak sengketa di laut Tiongkok selatan. Tahun 2011 Kementerian pertahanan RI telah meneken kontrak pembelian 3 kapal selam kelas “Chang bogo” dari Korea Selatan dengan skema alih teknologi (ToT).

Pengadaan 3 kapal selam dari Korea selatan membuat indonesia punya 5 kapal selam dan sarangnya pun sudah dipersiapkan di Teluk Palu, namun itu masih belum menciutkan herder-herder tetangga, sebab kapal selam yg dibeli masih kalah kelas dibanding punya tetangga. Jika ketiga “chang bogo” itu datang dipastikan tak lama lagi dua sejoli Nanggala dan Cakra memasuki masa purna baktinya, yang artinya TNI AL hanya punya 3 kapal selam kelas “boyband”, yang cuman bisa menggonggong tapi tak berani menerkam.

Sebagai negara maritim, pengoprasian kapal selam merupakan hal wajib bagi Indonesia. Eskalasi konflik yang sering terjadi dengan negara tetangga, banyaknya “hot spot” seperti selat, jalur ALKI dan Zona Ekonomi Ekslusif harus di rondai oleh kapal selam selain dukungan unsur kapal perang atas permukaan dan peswat intai maritim.

Ulimatum penambahan armada bawah laut segera dilakukan selain dari korea selatan, apakah dari blok barat (amerika, jerman, prancis) atau blok timur (russia) dengan jumlah dan jenis yang berfariasi, sehingga mencapai kebutuhan pokok minimum (Minimum Essential Force), Tetapi harus memiliki kemampuan daya tempur dan daya tangkal diatas punya tetangga.

Peningkatan volume kapal selam di kawasan asia fsifik hendaknya diimbangi dengan peningkatan jumlah kekuatan TNI AL untuk menjaga kedaulatan bawah laut dari ancaman kapal-kapal selam negara asing yang masuk bermain ke perairan Indonesia. Keberadaan armada kapal selam bagi indonesia bukan sekedar untuk persiapan menghadapi perang terbuka, namun disaat damai berfungsi sebagai kapal patroli teritorial yang mampu mengawasi aktifitas di laut nasional tanpa terlihat kasat mata.

Kedepannya adalah memperkuat armada bawah laut bukan dengan kekuatan kapal selam kelas anjing kampung yang cuman bisa mutar-mutar dan menggonggong ria di ladang sendiri tapii herder kelas petarung, untuk memastikan cita rasa pasti berdaulat dan pasti berotot di bawah laut itu benar-benar dapat kita rasakan dan dibanggakan. Di Bawah Laut, Kita Jaya,,,,

Penulis :
Haryanto Kadir
Alumni MahasiswaKelautan Universitas Hasanuddin

loading...
Tagged with:     ,

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *